Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget Atas Posting

Pandangan Tentang Belajar dan Pembelajaran dari Berbagai Aliran

 

         A.   PENDAHAULUAN
1.      Latar Belakang
 
Belajar adalah suatu proses dan aktivitas yang selalu dilakukan dan dialami manusia sejak manusia di dalam kandungan, buaian, tumbuh berkembang dari anak-anak, remaja, sehingga menjadi dewasa sampai keliang lahat, sesuai dengan prinsip pembelajaran sepanjang hayat. Oleh sebab itu, tidak lah heran jika konsep belajar dan pemelajaran yang dahulu lebih ditekankan kepada istilah mengajar atau pengajaran, yang berfokus pada aktivitas guru (teacher-centered) menuju pembelajaran yang berfokus kepada aktivitas siswa (student-centered).
Sebenarnya, jauh sebelum istilah mengajar dipertentangkan dengan istilah pemebelajaran, filosof yunani, Seneca telah menyatakan bahwa aktivitas mengajar tidak dapa dipisahkan dari aktivitas mengajar karena sambil megajar  pada hakikatnya guru juga belajar atau pengajaran megajari guru.
2.      Rumusan Masalah
a.       Bagaimana pandangan tentang belajar dan pembelajaran dari berbagai aliran?
b.      Apa saja macam-macam prinsip pembelajaran berdasarkan aliran tersebut?
c.       Bagaimana perilaku yang perlu dilakukan guru dalam pembelajaran terkait dengan prinsip-prinsip tersebut?
3.      Tujuan Penulisan
Untuk mengetahui pandangan tentang belajar dan pembelajaran dari berbagai aliran, macam-macam prinsip pembelajaran berdasarkan aliran tersebut, serta perilaku yang perlu dilakukan guru dalam pembelajaran terkait dengan prinsip-prinsip tersebut. 
        B.   PEMBAHASAN
          1.      Pandangan Tentang Belajar dan Pembelajaran dari Berbagai Aliran
a.       Teori Behaviorisme
Para ahli behaviorisme berpendapat bahwa belajar adalah perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman. Belajar merupakan akibat adanya interaksi antara stimulus  dengan respon. Menurut teori ini, dalam belajar yang penting adalah adanya input berupa stimulus dan output yang berupa respon. Sudutpandangteoriini adalah memusatkan perhatian pada bagaimana stimulus-stimulus lingkungan menyebabkan perubahan perilaku-perilaku orang
b.      Teori Konstruktivisme
Belajar menurut konstruktivisme adalah suatu proses mengasimilasikan dan mengaitkan pengalaman atau pelajaran yang dipelajari dengan pengertian yang sudah dimilikinnya, sehingga pengetahuannya dapat dikembangkan.
Paham ini memandang bahwa subjek belajar mempunyai potensi dan karakternya masing-masing yang mesti dibentuk sendiri dan dikembangkan sesuai dengan langkah-langkah yang mandiri.
c.       Teori Kognitivisme
Menurut pandangan teori belajar Kognitif belajar lebih mementingkan proses belajar daripada hasil belajar. Teori ini menekankan bahwa perilaku seseorang ditentukan oleh persepsi serta pemahaman tentang situasi yang berhubungan dengan tujuan belajarnya.
Menurut pendekatan kognitif dalam kaitan teori pemrosesan informasi, unsur terpenting dalam proses belajar adalah pengetahuan yang dimiliki setiap individu sesuai dengan situasi belajarnya.
d.      Teori Humanistik
Menurut teori ini, proses belajar harus berhulu dan bermuara pada manusia. Teori ini lebih tertarik pada gagasan tentang belajar dalam bentuknya yang paling ideal daripada belajar seperti apa yang biasa diamati dalam dunia keseharian. Karena itu, teori ini bersifat eklektik artinya teori apapun dapat dimanfaatkan asal tujuannya untuk “memanusiakan manusia” (mencaoai aktualisasi diri).
e.       Teori Kondisi Ivan Pavlov
Dalam buku-buku psikologi terbitan dalam bahasa Indonesia namanya sering ditulis Iwan Pavlov. Ia adalah seorang ahli ilmu faal tubuh (Physiologist) rusia. Pada awalnya ia tidak begitu tertarik melakukan penelitian terhadap gerakan refleks bersyarat sampai ia berusia 50 tahun. Waktunya banyak dihabiskannya dalam ruangan Laboratorium dengan seratus orang ahli. Percobaan klasik Pavlov dimulai dengan anjing berdasarkan gerakan refleks wajar. Menurut kajiannya bila seekor anjing terbit air liurnya dan keluar ketika mencium bau yang yang disukainya seperti daging, maka gerakan reflek demikian dinamakan gerakan refleks wajar.
Dari hasil percobaannya ia berkesimpulan, bahwa gerak refleks tersebut dapat dipelajari dan dapat berubah karena adanya latihan berulang kali. Gerakan refleks ini ada dua macam, ialah gerakan refleks wajar dan gerakan refleks tidak wajar.

       2.      Macam-Macam Prinsip Pembelajaran Berdasarkan Pandangan Aliran-Aliran
Prinsip belajar menurut aliran  behaviorisme, kognitivisme, maupun konstruktivisme, Sukmadinata menyampaikan prinsip belajar secara umum sedikit dikembangkan sebagai berikut:[9]
              a.       Belajar merupakan bagian dari perkembangan. Belajar dan berkembang dua hal yang berbeda tetapi erat hubungannya.
              b.      Belajar berlangsung seumur hidup. Hal ini sesuai dengan prinsip pembelajaran sepanjang hayat (lifelong learning)
               c.       Keberhasilan belajar dipengaruhi oleh faktor-faktor bawaan, lingkungan, kematangan, serta usaha dari individu secara aktif.
               d.       Belajar mencakup semua aspek kehidupan.
               e.       Kegiatan belajar berlangsug disembaranag tempat dan waktu.
               f.       Belajar berlangsung baik dengan guru maupun tanpa guru, baik dalam situasi formal, informal, dan nonformal.
               g.      Belajar yang terencana dan disengaja menuntut motivasi yang tinggi.
               h.      Perbuatan belajar berfariasi dari yang paling sederhana sampai dengan yang amat kompleks. 
i               i .         Dalam belajar dapat terjadi hambatan-hambatan.
j.                          j.     Dalam hal tertentu belajar memerlukan adanya bantuan dan bimbingan dari orang lain terutama guru, orang tua, teman sebaya kompeten, dan yang lainnya.

Prinsip-prinsip belajar konstruktivisme yang diterapkan dalam belajar-mengajar adalah sebagai berikut:
               a.       Pengetahuan dibangun oleh siswa sendiri
             b.      Pengetahuan tidak dapat dipindahkan dari guru ke murid, kecuali hanya dengan keaktifan murid sendiri untuk menalar.
               c.       Murid aktif mengonstruksi secara terus-menerus sehingga selalu terjadi perubahan konsep ilmiah.
               d.      Guru sekedar membantu menyediakan saran dan situasi agar proses konstruksi berjalan lancar.
              e.        Menghadapi masalah yang relevan dengan siswa.
              f.        Struktur pembelajaran seputar konsep utama pentingnya sebuah pertanyaan.
              g.      Mencari dan menilai pendapat siswa
               h.      Menyesuaikan kurikulum untuk menanggapi anggapan siswa
Seperti apakah ucapan Rasulullah ketika menyampaikan pesan-pesan keagamaan kepada umatnya?Bahasa adalah alat komunikasi antar manusia.Dan kita telah menemukan bahwa terdapat perbedaan dalam cara-cara orang berbicara. Ada yang berbicara anjang lebar, padahal informasi yang didapatkan sedikit saja, sementara ada yang memiliki pengetahuan yang  banyak tetapi ia membutuhkan pengetahuan itu. Bahkan ada yang memperpanjang pembicaraan, sementara dia mengetahui bahwa hal itu bisa diringkas tanpa menghilangan sedikit pun inti pembicaraannya.
Apa yang telah disebutkan diatas merupakan permasalahan yang sering dihadapi oleh pengajar untuk berkomunikasi dengan siswa. Cara-cara tersebut ternyata kita temukan pada diri Rasulullah sebagaimana diriwayatkan oleh Aisyah ra.
“Rasulullah tidak berbicara dengan sambung menyambung (nyerocos) seperti yang kalian lakukan ini.Akan tetapi pembicaraan Rasulullah terpisah-pisah dengan jeda. Jika seseorang menghitung kata-katanya, tentu ia dapat menghitungnya. Sedangkan jika Rasulullah mengucapkan satu kalimat, dia mengulanginya sebanyak tiga kali agar dapat diingat.”
Dari uraian hadits diatas, terdapat beberapa prinsip yang dapat dijadikan pelajaran bagi kita dari tindakan Rasulullah dalam menanamkan keimanan dan akhlak terhadap anak, yaitu:
             a.       Motivasi, segala ucapan Rasulullah mempunyai kekuatan yang dapat menjadi pendorong kegiatan individu untuk melakukan suatu kegiatan mencapai tujuan.
             b.        Fokus; ucapannya ringkas, langsung pada inti, pembicaraan tanpa ada kata yang memalingkan dari ucapannya, sehingga mudah dipahami.
            c.       Pembicaraanya tidak terlalu cepat sehingga dapat memberikan waktu yang cukup kepada anak untuk menguasainya.
             d.      Repetisi; senantiasa melakukan tiga kali pengulangan pada kalimat-kalimatnya supaya dapat diingat atau dihafal.
             e.       Analogi langsung; seperti pada contoh perumpamaan orang beriman dengan pohon kurma, sehingga dapat memberikan motivasi, hasrat ingin tahu, memuji atau mencela, dan mengasah otak untuk menggerakan potensi pemikiran atau timbul kesadaran untuk merenung dan tafakkur.
          f.       Memperhatikan kergaman anak; sehingga dapat melahirkan pemahaman yang berbedadan tidak terbatas satu pemahaman saja, dan dapat memotivasi siswa untuk terus belajar tanpa dihinggapi perasaan jenuh.
            g.      Memperhatikan tiga tujuan moral, yaitu: kognitif, emosional, dan kinetik.
            h.       Memperhatikan pertumbuhan dan perkembangan anak.
             i.         Menumbuhkan kreativitas anak.
            j.         Berbaur dengan anak-anak, masyarakat, dan sebagainya.
            k.        Aplikasi; Rasulullah langsung memberikan pekerjaan kepada anak yangberbakat.
            l  .         Doa, setiap perbuatan diawali dan diakhiri dengan menyebut asma Allah.
         m.      Teladan, satu kata antara ucapan dan perbuatan yang dilandasi dengan niatyang tulus karena Allah.
3.    Perilaku Yang Perlu Dilakukan Guru Dalam Pembelajaran
Perilaku yang dilakukan guru dalam pembelajaran diantaranya sebagai berikut:
Dalam gambaran kelas masa adepan, Gary Flewelling dan William Higginsonmenggambarkan peran guru sebagai berikut:
a.       Memberikan stimulasi kepada siswa dengan menyediakan tugas-tugas pembelajaran yang kaya (rich learning tasks) dan terancang baik untuk meningkatkan perkembangan intelektual, emosional, spiritual dan social.
b.      Menunjukkan manfaat yang diperoleh dari memepelajari dari suatu pokok bahasan.
c.       Berinteraksi dengan siswa untuk mendorong keberanian, mengilhami, menantang, berdiskusi, berbagi, menilai dan merayakan perkembangan, pertumbuhan dan keberhasilan.
 Pullias dan Young mengutarakan ada empat belas karakteristik yang melekat pada seorang guru yang unggul diantarnya:
a.       Guru sebagai guru
b.      Guru sebagai teladan
c.       Guru sebagai penasihat
d.      Guru sebagai pemegang otoritas
e.       Guru sebagai pemabaru
f.       Guru sebagai pemandu
g.      Guru sebagai pelaksana tugas rutin
h.      Guru sebagai insan visioner
i.        Guru sebagai pencipta
j.        Guru sebagai orang yang realistis
k.      Guru sebagai penutur cerita dan seorang actor
l.        Guru sebagai pembongkar kemah
m.    Guru sebagai penilai
n.      Guru sebagai peneliti

DAFTAR PUSTAKA
Abdul, Majid. Perencanan Pembelajaran, Bandung : PT Remaja Rosdakarya. 2011.
Agus N. Cahyo. Panduan Aplikasi Teori-Teori Belajar Mengajar. Jogjakarta: Diva Press. 2013.
Eveline Siregar, Hartini Nara.  Teori Belajar dan Pembelajaran. Bogor: Ghalia Indonesia. 2010.
Suyono dan Hariyanto.Belajar Dan Pembelajaran, Bandung: PT Remaja Rosdakarya. 2011.
Jeanne Ellis  Ormrod, diterjemahkan oleh Wahyu Indianti, dkk.Psikologi Pendidikan. Jakarta: Erlangga. 2008
Rasyad, Aminudin.Teori Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Uhamka Press & Yayasan PEP EX 8.

Post a Comment for "Pandangan Tentang Belajar dan Pembelajaran dari Berbagai Aliran"